.sidebar h2 { background:url(https://i1345.photobucket.com/albums/p674/Heru-Arya/410498_zps0bbb3ef2.jpg)repeat-x; color: #ffffff; font-size: 17px; font-family: Arial; font-weight: strong; margin: 1px 1px 1px 1px; padding: 0px 0px 0px 0px; border:1px solid #ec8c00; text-align:center; }

Senin, 08 Januari 2018

PETRICHOR

Petrikor

Aroma unik yang sulit diterjemahkan
Datang kala tetesan hujan kian menipis
Bersetubuh dengan bau tanah
Berdifusi dengan terpaan angin

Sejemang timbul perasaan aneh
Kala relung mencoba mendeskripsikan
Rindu rupanya yang menyeruak hati
Entah merujuk kepada siapa Tuan-nya

Saat memori memutar kembali
Bagai topan, nostalgia itu menghantamku
Bergelut dalam benak menjelma ribuan tetes air mata
Kini, petrikor tak lagi menyenangkan

Dia tak lagi memabukkan seperti petrikor
Tak lagi bersinar seperti mentari
Hanya mendung saat kuingat namanya
Nama yang tak kunjung pergi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar